My Jurnal


SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PENERIMAAN KAS PADA
PT. ASURANSI  BUMI ASIH JAYA

ABSTRAK


Dari hasil pengamatan sementara terlihat bahwa sistem akuntansi pada pengelolaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya cenderung kurang baik, yang terlihat dari lambatnya proses penyusunan laporan keuangan yang disebabkan karena perhitungan aktiva lancar khususnya pada kas. Selain itu seringpula terjadi ketidaksesuaian jumlah kas dari hasil perhitungan secara manual dan bukti transaksi/dokumen dengan perhitungan yang terkomputerisasi. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pengelolaan kas (khususnya dalam hal penerimaan kas) dengan sistem akuntansi yang ada. Selain itu terlihat pula adanya dokumen yang kurang berfungsi pada salah satu fungsi yang terkait dengan sistem akuntansi penerimaan kas. Oleh karenanya diperlukan suatu analisis dan evaluasi sistem informasi pada sistem penerimaan kas PT. Asuransi Bumi Asih Jaya. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis sistem informasi akuntansi penerimaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya. Hasil penelitian di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya, yaitu : Prosedur akuntansi pada sistem akuntansi penerimaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya yang meliputi fungsi yang terkait dalam sistem akuntansi, dokumen yang digunakan, unsur pengendalian intern, serta prosedur penerimaan kas dapat dikatakan baik dan prosedur akuntansi pada sistem akuntansi penerimaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya telah sesuai dengan standar sistem akuntansi penerimaan kas pada umumnya karena telah memenuhi unsur-unsur fungsi yang terkait dalam sistem akuntansi, dokumen yang digunakan, unsur pengendalian intern, serta prosedur penerimaan kas yang terstandardisasi.

I.     PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan industri asuransi di Indonesia dewasa ini sangat pesat. Bukan hanya pemain-pemain lama yang turut meramaikan bisnis beresiko ini, melainkan pemain-pemain baru pun mulai banyak bermunculan mendampingi perkembangan industri perbankan dan multifinance yang saat ini kerapkali memacu adrenalin pergerakan ekonomi di Indonesia. Namun meskipun demikian, hanya perusahaan asuransi yang berkinerja baik yang dapat bertahan dan tetap eksis dalam industri perasuransian di Indonesia.
Dewasa ini peranan akuntansi sebagai alat pembantu dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi dan keuangan semakin disadari oleh para usahawan. Peranan akuntansi dalam membantu melancarkan tugas manajemen sangat menonjol, khususnya dalam melaksanakan fungsi perencanaan dan pengawasan. Itulah sebabnya akuntansi semakin banyak dipelajari oleh para usahawan dan diajarkan mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Memang tidak dapat disangkal bahwa sebagian besar informasi yang diperlukan para manajer perusahaan adalah berasal dari data akuntansi. Oleh karena itu manajer moderen dituntut untuk memiliki kemampuan menganalisa dan menggunakan data akuntansi.
Setiap perusahaan memerlukan dua macam informasi tentang perusahaannya, antara lain ia perlu mengetahui berapa nilai perusahaannya, dan berapa laba atau ruginya. Kedua informasi itu berguna untuk mengetahui besar modal yang tertanam dalam perusahaan, mengetahui maju mundurnya perusahaan, dasar perhitungan pajak, menjelaskan keadaan perusahaan sewaktu-waktu memerlukan kredit dari bank atau pihak lain, dasar untuk menentukan kebijakan yang akan ditempuh, dan menarik para peminat saham jika perusahaannya berbentuk perseroan terbatas.
Sistem informasi akuntansi menyajikan informasi mengenai teknik, metode dan prosedur untuk mencatat dan mengolah data akuntansi dalam rangka memperoleh pengendalian intern yang baik, pengendalian intern ini merupakan suatu sistem pengendalian yang diperoleh dengan adanya struktur organisasi yang memungkinkan adanya pembagian tugas dan sumber daya manusia yang cakap dan praktek-praktek yang sehat.
Kas merupakan uang tunai atau aktiva yang paling likuid dalam sistem akuntansi, sehingga pos kas ini biasanya ditempatkan pada urutan teratas dari seluruh aktiva yang ada. Yang termasuk dalam kas ialah seluruh alat pembayaran yang dapat digunakan segera seperti uang kertas, uang logam, dan saldo rekening di bank.
Dalam sistem akuntansi pengelolaan kas memegang peranan penting bagi perusahaan yang diawali dari penerimaan kas, pengeluaran kas, hingga penyusunan laporan keuangan. Pengelolaan kas dianggap penting karena kesalahan yang terjadi pada pengelolaan kas dapat berdampak pada tingkat likuiditas perusahaan, di mana kas tersebut merupakan aktiva perusahaan yang paling likuid.
Sama halnya dengan perusahaan-perusahaan pada umumnya, pada perusahaan asuransi pengelolaan kas akan banyak mempengaruhi kinerja perusahaan, terutama apabila pengelolaannya kurang tepat maka akan menimbulkan gejolak likuiditas yang mampu merobohkan perusahaan. Demikian pula dengan PT. Asuransi Bumi Asih Jaya, meskipun keberadaannya hanya bersifat kantor pemasaran, namun dalam banyak hal efisiensi perusahaan banyak tergantung pada pengelolaan kasnya. Agar dapat beratribut baik, maka PT. Asuransi Bumi Asih Jaya juga harus mengedepankan faktor likuiditas dengan memperhatikan pengelolaan kas secara baik pula.
Dari hasil pengamatan sementara terlihat bahwa sistem akuntansi pada pengelolaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya cenderung kurang baik, yang terlihat dari lambatnya proses penyusunan laporan keuangan yang disebabkan karena perhitungan aktiva lancar khususnya pada kas. Selain itu seringpula terjadi ketidaksesuaian jumlah kas dari hasil perhitungan secara manual dan bukti transaksi/dokumen dengan perhitungan yang terkomputerisasi. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pengelolaan kas (khususnya dalam hal penerimaan kas) dengan sistem akuntansi yang ada. Selain itu terlihat pula adanya dokumen yang kurang berfungsi pada salah satu fungsi yang terkait dengan sistem akuntansi penerimaan kas. Oleh karenanya diperlukan suatu analisis dan evaluasi sistem informasi pada sistem penerimaan kas PT. Asuransi Bumi Asih Jaya.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di muka, maka dapat dirumuskan pokok masalah yang akan dibahas dalam penulisan ini, yaitu : “Bagaimanakah sistem informasi akuntansi penerimaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya ?”.

1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis sistem informasi akuntansi penerimaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya.

II. LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Informasi Akuntansi
2.1.1 Sistem

Sistem pada dasarnya adalah sekelompok unsur yang erat berhubungan satu dengan lainnya, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu (Mulyadi, 2001:2).
Menurut Krismiaji (2002:1) sistem adalah serangkaian komponen yang dikoordinasikan untuk mencapai serangkaian tujuan-tujuan tertentu.
Dari serangkaian uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah sekelompok unsur yang dikoordinasi untuk mencapai tujuan tertentu.

2.1.2 Sistem dan Prosedur Akuntansi
Pengertian akuntansi menurut Glos dalam Swastha (1997:314) adalah pencatatan, penggolongan, dan peringkasan bisnis, serta penginterpretasian informasi yang telah disusun.
Sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan (Mulyadi, 2001:3).
Dari definisi sistem akuntansi tersebut, unsur suatu sistem akuntansi pokok adalah formulir, catatan yang terdiri dari jurnal, buku besar dan buku pembantu, serta laporan.

2.1.3 Sistem Informasi Akuntansi
Tugas pengolahan data perusahaan dilaksanakan oleh sistem informasi akuntansi (SIA) yang mengumpulkan data kegiatan perusahaan lalu memprosesnya menjadi informasi yang berguna bagi pihak internal maupun eksternal perusahaan, kecuali pesaing. Dengan jenis kegiatan yang demikian, akhirnya dapat diketahui beberapa karakteristik sistem informasi akuntansi yaitu melaksanakan tugas yang diperlukan, berpegang pada prosedur standar, menangani data yang rinci, berfokus pada data masa lampau, dan menyediakan informasi pemecah masalah yang minimal (Umar, 1998:9).
Kedudukan kas di dalam sistem akuntansi yaitu sebagai uang tunai yang paling likuid, sehingga pos ini biasanya ditempatkan pada urutan teratas dari aktiva. Yang termasuk dalam kas ialah seluruh alat pembayaran yang dapat digunakan segera seperti uang kertas, uang logam, dan saldo rekening giro di bank. Oleh karena kas ini merupakan aktiva yang paling likuid, maka kas bersama-sama aktiva lancar lainnya dijadikan sebagai indikator tingkat likuiditas perusahaan.

2.2 Sistem Akuntansi Penerimaan Kas dari Piutang
Dalam perusahaan asuransi penerimaan kas yang bersumber dari premi diperlakukan sama halnya dengan penerimaan kas yang bersumber dari piutang pada perbankan. Hal ini disebabkan karena proses pembayaran premi dilakukan secara kontinyu dalam suatu periode waktu sama dengan proses pembayaran kredit pada perbankan. Oleh karena itu perlakuannya dalam sistem akuntansi penerimaan kas dipersamakan dengan penerimaan kas dari piutang.
Berdasarkan sistem akuntansi yang baik, sistem penerimaan kas dari piutang harus menjamin diterimanya kas dari debitur oleh perusahaan, bukan oleh karyawan yang tidak berhak menerimanya. Penerimaan kas dari piutang dapat dilakukan melalui berbagai cara :  melalui penagih perusahaan dan melalui pos

2.2.1 Fungsi yang Terkait
Fungsi yang terkait dalam sistem penerimaan kas dari piutang menurut Mulyadi (2001:487) antara lain:
1. Fungsi sekretariat
Dalam sistem penerimaan kas dari piutang, fungsi sekretariat bertanggung jawab dalam penerimaan cek dan surat pemberitahuan (remittance ad-vice) melalui pos dari para debitur perusahaan.
2. Fungsi penagihan
Jika perusahaan melakukan penagihan piutang langsung kepada debitur melalui penagih perusahaan, fungsi penagihan bertanggung jawab untuk melakukan penagihan kepada para debitur perusahaan berdasarkan daftar piutang yang ditagih yang dibuat oleh fungsi akuntansi.
3. Fungsi kas
Fungsi ini bertanggung jawab atas penerimaan cek dari fungsi sekretariat (jika penerimaan kas dari piutang dilaksanakan melalui pos) atau fungsi penagihan (jika penerimaan kas dari piutang dilaksanakan melalui penagih perusahaan). Fungsi kas bertanggung jawab untuk menyetorkan kas yang diterima dari berbagai fungsi tersebut segera ke bank dalam jumlah penuh.
4. Fungsi akuntansi
Fungsi akuntansi bertanggung jawab dalam pencatatan penerimaan kas dari piutang ke dalam jurnal penerimaan kas dan berkurangnya piutang ke dalam kartu piutang.
5. Fungsi pemeriksa intern
Dalam sistem penerimaan kas dari piutang, fungsi pemeriksa intern bertanggung jawab dalam melaksanakan penghitungan kas yang ada di tangan fungsi kas secara periodik. Di samping itu, fungsi pemeriksa intern bertanggung jawab dalam melakukan rekonsiliasi bank, untuk mengecek ketelitian catatan kas yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi.

2.2.2 Dokumen yang Digunakan
Dokumen yang digunakan dalam sistem penerimaan kas dari piutang menurut Mulyadi (2001:488) adalah :
1.    Surat pemberitahuan
2.    Daftar surat pemberitahuan
3.    Bukti setor bank
4.    Kuitansi

2.2.3 Unsur Pengendalian Intern
Yang termasuk dalam unsur pengendalian intern dalam sistem akuntansi penerimaan kas dari piutang menurut Mulyadi (2001:490) antara lain :
1. Organisasi
a. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi penagihan dan fungsi penerimaan kas.
b. Fungsi penerimaan kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.
2. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan
a. Fungsi penagihan melakukan penagihan hanya atas dasar daftar piutang yang harus ditagih yang dibuat oleh fungsi akuntansi.
b. Pengkreditan rekening pembantu piutang oleh fungsi akuntansi (bagian piutang) harus didasarkan atas surat pemberitahuan yang berasal dari debitur.
3. Praktik yang Sehat
a.       Hasil penghitungan kas harus direkam dalam berita cara penghitungan kas dan disetor penuh ke bank dengan segera.
b.      Para penagih dan kasir harus diasuransikan (fidelity bond insurance).
c.       Kas dalam perjalanan (baik yang ada di tangan Bagian Kasa maupun di tangan penagih perusahaan) harus diasuransikan (cash-in-safe dan cash-in-transit insurance).

2.2.4 Prosedur Penerimaan Kas dari Piutang
1. Sistem penerimaan kas dari piutang melalui penagih perusahaan
Penerimaan kas dari piutang melalui penagih perusahaan dilaksanakan dengan prosedur berikut :
a.       Bagian piutang memberikan daftar piutang yang sudah saatnya ditagih kepada bagian penagihan.
b.      Bagian penagihan mengirimkan penagih, yang merupakan karyawan perusahaan, untuk melakukan penagihan kepada debitur.
c.       Bagian penagihan menerima kas dan surat pemberitahuan (remmit-tance advice) dari debitur.
d.      Bagian penagihan menyerahkan kas kepada bagian kasa.
e.       Bagian penagihan menyerahkan surat pemberitahuan kepada bagian piutang untuk kepentingan posting ke dalam kartu piutang.
f.       Bagian kasa mengirim kuitansi sebagai tanda penerimaan kas kepada debitur.
g.      Bagian kasa menyetorkan cek ke bank, setelah cek atas cek tersebut dilakukan endorsement oleh pejabat yang berwenang.
h.      Bank perusahaan melakukan clearing atas cek tersebut ke bank debitur.
2. Sistem penerimaan kas dari piutang melalui pos
Sistem penerimaan kas dari piutang melalui pos dilaksanakan dengan prosedur berikut ini :
a.       Bagian penagihan mengirimkan faktur penjualan kredit kepada debitur pada saat transaksi kredit terjadi.
b.      Debitur mengirim cek atas nama yang dilampiri surat pemberitahuan melalui pos.
c.       Bagian sekretariat menerima cek atas nama dan surat pemberitahuan (remmittance advice) dari debitur.
d.      Bagian sekretariat menyerahkan cek kepada bagian kasa.
e.       Bagian sekretariat menyerahkan surat pemberitahuan kepada bagian piutang untuk kepentingan posting ke dalam kartu piutang.
f.       Bagian kasa mengirim kuitansi kepada debitur sebagai tanda terima pembayaran dari debitur.
g.      Bagian kasa menyetorkan cek ke bank, setelah cek tersebut dilakukan endorsement oleh pejabat yang berwenang.
h.      Bank perusahaan melakukan clearing atas cek tersebut ke bank debitur.

III. METODOLOGI
Metode penelitian yang digunakan adalah riset lapangan dengan melakukan wawancara langsung dengan direktur dan karyawan-karyawan, khususnya bagian keuangan da akuntansi. Selain itu melakukan pengamatan pada kegiatan operasional perusahaan sehari-hari, khususnya pada alur penerimaan kas.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang peroleh secara langsung dari perusahaan yang berupa copy bukti-bukti transaksi perusahaan.
Untuk menganalisis data-data yang terkumpul, digunakan metode analisa deskriptif yang bertujuan agar dapat menggambarkan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sistem informasi penerimaan kas.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada perusahaan asuransi penerimaan kas yang bersumber dari premi diperlakukan sama halnya dengan penerimaan kas yang bersumber dari piutang pada perbankan. Hal ini disebabkan karena proses pembayaran premi dilakukan secara kontinyu dalam suatu periode waktu sama dengan proses pembayaran kredit pada perbankan. Oleh karena itu perlakuannya dalam sistem akuntansi penerimaan kas dipersamakan dengan penerimaan kas dari piutang.

4.1 Fungsi yang Terkait Pada Sistem Akuntansi Penerimaan Kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya
Fungsi yang terkait dalam sistem penerimaan kas dari antara lain fungsi sekretariat, fungsi penagihan, fungsi kas, fungsi akuntansi, dan fungsi pemeriksa intern. Berikut ini adalah penjelasannya :

1. Fungsi Sekretariat (Divisi Keuangan/Investasi dan Sekretariat)
Fungsi sekretariat di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya dilaksanakan oleh Divisi Keuangan/Investasi
2. Fungsi Penagihan (Divisi TI dan Penagihan)
PT. Asuransi Bumi Asih Jaya di samping melakukan penerimaan premi secara langsung juga melakukan penagihan piutang langsung kepada debitur melalui penagih perusahaan, fungsi penagihan bertanggung jawab untuk melakukan penagihan kepada para debitur perusahaan berdasarkan daftar piutang yang ditagih.
3. Fungsi Kas
Fungsi ini bertanggung jawab atas penerimaan kas dari fungsi Divisi Keuangan/Investasi dan Sekretariat atau fungsi penagihan (jika penerimaan kas dari piutang dilaksanakan melalui penagih perusahaan). Fungsi kas bertanggung jawab untuk menyetorkan kas yang diterima dari berbagai fungsi tersebut segera ke bank dalam jumlah penuh.
4. Fungsi Akuntansi
Fungsi akuntansi bertanggung jawab dalam pencatatan penerimaan kas dari piutang ke dalam jurnal penerimaan kas dan berkurangnya piutang ke dalam kartu piutang.
5. Fungsi Pemeriksa Intern
Dalam struktur organisasi PT. Asuransi Bumi Asih Jaya fungsi pemeriksa intern berada di tangan Divisi Internal Audit/Akuntansi

4.2 Dokumen yang Digunakan dan Catatan Akuntansi Pada Sistem Akuntansi Penerimaan Kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya
 Dokumen yang digunakan dalam sistem penerimaan kas pada PT. Asuransi Bumi Asih Jaya antara lain :
1. Daftar Persetujuan Penerbitan Polis
2. Dokumen Penagihan/Debit Penagihan
3. Kuitansi/Bukti Penerimaan
4.    Bukti Setor Bank
5. Daftar Cetakan Kuitansi Premi
Adapun catatan-catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat setiap transaksi penerimaan kas yang terjadi pada PT. Asuransi Bumi Asih Jaya antara lain yaitu : Jurnal Penerimaan Kas, Lembar Kas Harian, dan Neraca Lajur.

4.3 Prosedur Akuntansi Pada Sistem Akuntansi Penerimaan Kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya
Secara umum ada dua prosedur akuntansi pada sistem akuntansi penerimaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya yaitu secara langsung (melalui kasir/bank) dan sistem penerimaan kas dari piutang melalui penagihan. Berikut ini adalah penjelasannya :

1. Sistem penerimaan kas secara langsung (melalui kasir/bank)
Sistem penerimaan kas secara langsung (melalui kasir/bank) dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.       Berdasarkan Daftar Persetujuan Penerbitan Polis, maka nasabah dapat langsung melakukan pembayaran premi atas kepesertaan asuransi baik Askol maupun Asper pada PT. Asuransi Bumi Asih Jaya melalui :
1) Kasir/Kassa PT. Asuransi Bumi Asih Jaya
Atas pembayaran pada Kasir/Kassa PT. Asuransi Bumi Asih Jaya maka nasabah memperoleh bukti transaksi berupa Kuitansi/Bukti Penerimaan kas. Dokumen ini dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dan merupakan bukti penerimaan kas yang dibuat oleh perusahaan bagi para nasabah yang telah melakukan pembayaran premi atas kepesertaan asuransi baik Askol maupun Asper pada PT. Asuransi Bumi Asih Jaya. Bukti penerimaan kas diserahkan oleh fungsi kas kepada fungsi akuntansi, dan dipakai oleh fungsi akuntansi sebagai dokumen sumber untuk pencatatan transaksi penerimaan kas ke dalam jurnal penerimaan kas dan lembar kas harian. Bersamaan dengan itu diterbitkan pula Daftar Pengiriman Surat Permintaan.
2) Setor Bank Mitra PT. Asuransi Bumi Asih Jaya
Atas pembayaran melalui setor bank maka nasabah memperoleh bukti transaksi berupa bukti setor bank. Dokumen ini dibuat oleh fungsi kas sebagai bukti penyetor kas yang diterima ke bank. Bukti setor dibuat 3 lembar dan diserahkan oleh fungsi kas ke bank, bersamaan dengan penyetoran kas ke bank. Dua lembar tembusannya diminta kembali dari bank setelah ditandatangani dan dicap oleh bank sebagai bukti penyetoran kas ke bank. Bukti setor bank diserahkan oleh fungsi kas kepada fungsi akuntansi, dan dipakai oleh fungsi akuntansi sebagai dokumen sumber untuk pencatatan transaksi penerimaan kas ke dalam jurnal penerimaan kas dan lembar kas harian. Setelah itu diterbitkan pula Daftar Pengiriman Surat Permintaan.
b. Berdasarkan bukti transaksi tersebut (kuitansi bukti penerimaan/bukti setor bank) dan Daftar Pengiriman Surat Permintaan, kemudian dibuatlah Daftar Cetakan Kuitansi Premi. Dalam Daftar Cetakan Kuitansi Premi terdapat sejumlah data cetak yang berisi identitas kuitansi premi yang tercatat dalam setiap hari transaksi di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya. Detailnya isi dari Daftar Cetakan Kuitansi Premi antara lain kantor, nomor polis, bulan kuitansi, tanggal cetak kuitansi, tanggal BK, besar premi, status kuitansi, nomor BK, dan kode Cs, identitas penerima dan yang menyerahkan.
c. Setiap akhir bulan setiap transaksi penerimaan kas dicatat dalam neraca lajur oleh Divisi Internal Audit/Akuntansi khususnya pada Bagian Akuntansi PT. Asuransi Bumi Asih Jaya.

2. Sistem penerimaan kas dari piutang melalui penagihan
Sistem penerimaan kas dari piutang premi melalui penagihan dijelaskan sebagai berikut :
a.       Bagian piutang (Bagian Akuntansi pada Divisi Internal Audit/Akuntansi) PT. Asuransi Bumi Asih Jaya memberikan daftar piutang yang sudah saatnya ditagih kepada bagian penagihan. Di samping melakukan penerimaan premi secara langsung juga melakukan penagihan piutang langsung kepada debitur melalui penagih perusahaan atau melalui pos, fungsi penagihan bertanggung jawab untuk melakukan penagihan kepada para debitur perusahaan berdasarkan daftar piutang yang ditagih
b.      Bagian penagihan mengirimkan dokumen penagihan melalui karyawan penagih atau melalui pos, untuk melakukan penagihan kepada debitur.
c. Berdasarkan Dokumen Penagihan/Debit Penagihan, maka nasabah dapat langsung melakukan pembayaran utang premi atas kepesertaan asuransi baik Askol maupun Asper pada PT. Asuransi Bumi Asih Jaya melalui :
1) Langsung Melalui Kasir/Kassa PT. Asuransi Bumi Asih Jaya
Atas pembayaran pada Kasir/Kassa PT. Asuransi Bumi Asih Jaya maka nasabah memperoleh bukti transaksi berupa Kuitansi/Bukti Penerimaan kas dari piutang melalui penagihan. Dokumen ini dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dan merupakan bukti penerimaan kas dari piutang melalui penagihan yang dibuat oleh perusahaan bagi para nasabah yang telah melakukan pembayaran utang premi atas kepesertaan asuransi baik Askol maupun Asper pada PT. Asuransi Bumi Asih Jaya. Bukti penerimaan kas dari piutang melalui penagihan diserahkan oleh fungsi kas kepada fungsi akuntansi, dan dipakai oleh fungsi akuntansi sebagai dokumen sumber untuk pencatatan transaksi penerimaan kas dari piutang melalui penagihan ke dalam jurnal penerimaan kas dan lembar kas harian. Bersamaan dengan itu diterbitkan pula Daftar Pengiriman Surat Permintaan.
2) Setor Bank Mitra PT. Asuransi Bumi Asih Jaya
Atas pembayaran melalui setor bank maka nasabah memperoleh bukti transaksi berupa bukti setor bank. Dokumen ini dibuat oleh fungsi kas sebagai bukti penyetor kas dari piutang melalui penagihan yang diterima ke bank. Bukti setor dibuat 3 lembar dan diserahkan oleh fungsi kas ke bank, bersamaan dengan penyetoran kas ke bank. Dua lembar tembusannya diminta kembali dari bank setelah ditandatangani dan dicap oleh bank sebagai bukti penyetoran kas dari piutang melalui penagihan ke bank. Bukti setor bank diserahkan oleh fungsi kas kepada fungsi akuntansi, dan dipakai oleh fungsi akuntansi sebagai dokumen sumber untuk pencatatan transaksi penerimaan kas dari piutang melalui penagihan ke dalam jurnal penerimaan kas dan lembar kas harian. Setelah itu diterbitkan pula Daftar Pengiriman Surat Permintaan.
d. Berdasarkan bukti transaksi tersebut (kuitansi bukti penerimaan/bukti setor bank) dan Daftar Pengiriman Surat Permintaan, kemudian dibuatlah Daftar Cetakan Kuitansi Premi. Dalam Daftar Cetakan Kuitansi Premi terdapat sejumlah data cetak yang berisi identitas kuitansi premi yang tercatat dalam setiap hari transaksi di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya. Detailnya isi dari Daftar Cetakan Kuitansi Premi antara lain kantor, nomor polis, bulan kuitansi, tanggal cetak kuitansi, tanggal BK, besar premi, status kuitansi, nomor BK, dan kode Cs, identitas penerima dan yang menyerahkan. Setiap akhir bulan setiap transaksi penerimaan kas dari piutang melalui penagihan dicatat dalam neraca lajur oleh Divisi Internal Audit/Akuntansi khususnya pada Bagian Akuntansi PT. Asuransi Bumi Asih Jaya.
Untuk lebih jelasnya mengenai prosedur akuntansi pada sistem akuntansi penerimaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya berikut ini flowchartnya :






























































4.4 Unsur Pengendalian Intern Pada Sistem Akuntansi Penerimaan Kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya
 Adapun yang termasuk dalam unsur pengendalian intern dalam sistem akuntansi penerimaan kas pada PT. Asuransi Bumi Asih Jaya antara lain yaitu :
1. Pengorganisasian
Sebagai unsur pengendalian intern perusahaan, secara umum fungsi akuntansi pada PT. Asuransi Bumi Asih Jaya terpisah secara struktural maupun organisasional dengan fungsi kas dan fungsi penagihan perusahaan.
PT. Asuransi Bumi Asih Jaya melakukan penerimaan premi secara langsung juga melakukan penagihan piutang langsung kepada debitur melalui penagih perusahaan, fungsi penagihan bertanggung jawab untuk melakukan penagihan kepada para debitur perusahaan berdasarkan daftar piutang yang ditagih yang dalam hal ini di bawah kendali Divisi TI dan Penagihan. Sedangkan fungsi Kas bertanggung jawab atas penerimaan cek/kas dari fungsi Divisi Keuangan/Investasi dan Sekretariat atau fungsi penagihan (jika penerimaan kas dari piutang dilaksanakan melalui penagih perusahaan). Fungsi kas bertanggung jawab untuk menyetorkan kas yang diterima dari berbagai fungsi tersebut segera ke bank dalam jumlah penuh.
Fungsi akuntansi bertanggung jawab dalam pencatatan penerimaan kas dari piutang ke dalam jurnal penerimaan kas dan berkurangnya piutang ke dalam kartu piutang. Dalam struktur organisasi PT. Asuransi Bumi Asih Jaya fungsi akuntansi berada di tangan Bagian Akuntansi di bawah kendali Divisi Internal Audit/Akuntansi.
Dengan terpisahnya organisasi fungsi akuntansi secara struktural maupun organisasional dengan fungsi kas dan fungsi penagihan perusahaan akan mempersulit ruang gerak karyawan untuk memanipulasi data karena akan melibatkan banyak pihak. Dengan demikian maka pengendalian intern secara organisasional dapat dikatakan efektif untuk mencegah penyimpangan dan manipulasi data keuangan. Namun demikian terpisahnya organisasi fungsi tersebut justru akan mengurangi efisiensi, meskipun hal ini jauh akan lebih efisien daripada terjadi penyimpangan dan manipulasi data keuangan yang dapat merugikan perusahaan

2. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan
Dalam hal unsur pengendalian intern perusahaan berupa sistem otorisasi dan prosedur pencatatan pada PT. Asuransi Bumi Asih Jaya, fungsi penagihan melakukan penagihan premi hanya atas dasar daftar piutang yang harus ditagih yang dibuat oleh fungsi akuntansi. Dengan kondisi yang demikian maka otorisasi penagihan dari fungsi penagihan akan ada karena adanya otorisasi fungsi akuntansi. Fungsi penagihan tidak dapat menyelewengkan sejumlah dana dari hasil penagihan karena harus mempertanggungjawabkannya pada fungsi akuntansi. Demikian pula sebaliknya fungsi akuntansi tidak dapat melakukan penagihan tanpa fungsi penagihan.Penyelewengan mungkin akan muncul apabila ada kerjasama antara fungsi akuntansi dan fungsi penagihan. Kondisi ini harus segera dicermati secara lebih seksama dengan melibatkan pihak lain dalam pemeriksaan dan pengawasan yang memiliki otorisasi yang kuat.

3. Praktik yang Sehat
Dari hasil observasi mengenai praktik akuntansi penerimaan kas terlihat bahwa hasil penghitungan kas dicatat pada Jurnal Penerimaan Kas, Lembar Kas Harian, dan Neraca Lajur dan disetor penuh ke bank dengan segera. Jika perusahaan menerapkan kebijakan bahwa semua kas yang diterima disetor penuh ke bank dengan segera, maka kas yang ada di tangan Bagian Kasir pada suatu saat terdiri setoran dalam perjalanan (deposit in transit). Secara periodik fungsi pemeriksa intern melakukan penghitungan kas dan hasil perhitungan tersebut direkam dalam suatu dokumen yang disebut berita acara penghitungan kas. Selesai dihitung, kas tersebut segera disetor ke bank dalam jumlah penuh.
Para penagih dan kasir juga diasuransikan. Manusia seringkali tergoda oleh situasi yang melingkupinya pada suatu saat tertentu. Untuk menghadapi kemungkinan kecurangan yang dilakukan oleh karyawan Bagian Kasir dan penagih, karyawan yang langsung berhubungan dengan uang perusahaan ini perlu diasuransikan, sehingga jika karyawan yang diserahi tanggung jawab menjaga uang tersebut melakukan kecurangan, asuransi akan menanggung risiko kerugian yang timbul.
Kas dalam perjalanan juga diasuransikan keberadaannya. Untuk melindungi kekayaan perusahaan berupa uang yang dibawa oleh penagih, perusahaan dapat menutup asuransi cash in transit. Untuk melindungi kekayaan kas yang ada di tangan Bagian Kasir, perusahaan dapat menutup asuransi cash in safe. Dengan dilaksanakannya praktik akuntansi yang sehat tersebut, maka akan mendukung efektivitas dan efisiensi perusahaan, di mana pada intinya perusahaan tidak akan dirugikan karena adanya penyelewengan yang dilakukan karyawan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

Beberapa simpulan yang dapat dikemukakan dari serangkaian hasil penelitian di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya, yaitu :
1.  Prosedur akuntansi pada sistem akuntansi penerimaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya yang meliputi fungsi yang terkait dalam sistem akuntansi, dokumen yang digunakan, unsur pengendalian intern, serta prosedur penerimaan kas dapat dikatakan baik. Pembenahan perlu dilakukan pada dokumen yang digunakan yang terlalu sederhana dan mudah untuk dipalsukan oleh karyawan.
2.  Prosedur akuntansi pada sistem akuntansi penerimaan kas di PT. Asuransi Bumi Asih Jaya telah sesuai dengan standar sistem akuntansi penerimaan kas pada umumnya karena telah memenuhi unsur-unsur fungsi yang terkait dalam sistem akuntansi, dokumen yang digunakan, unsur pengendalian intern, serta prosedur penerimaan kas yang terstandardisasi.

5.2 Saran-saran
Saran-saran yang hendak dikemukakan antara lain menyangkut beberapa hal sebagai berikut :
1.  Perlu adanya perubahan dokumen akuntansi dengan karakteristik yang lebih modern sehingga sulit untuk dipalsukan baik oleh karyawan perusahaan maupun oleh nasabah, sehingga prosedur akuntansi sistem akuntansi penerimaan kas dapat lebih efektif dan efisien.
2.  Keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan perlu ditingkatkan untuk meningkatkan loyalitas karyawan terhadap perusahaan, sehingga penyelewengan penggunaan dana dapat diminimalisir.
3.  Perlu adanya pembenahan prosedur akuntansi penerimaan kas melalui penelitian lanjutan.

DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Sulistyo. 2006. Metode Penelitian. Jakarta : Wedatama Widya Sastra.
Hadi, Sutrisno. 2004. Metodologi Research. Jilid 2. Yogyakarta : Andi Offset.
Hasan, Iqbal. 2002. Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Jakarta : Ghalia Indonesia.
Lumbantoruan, Sophar. 1999. Akuntansi Pajak. Edisi Revisi. Jakarta : Penerbit PT. Grasindo.
Mulyadi. 2005. Akuntansi Biaya. Edisi 5. Yogyakarta : UPP AMP YKPN.
Supriyono. 1999. Akuntansi Biaya. Yogyakarta : BPFE.
Swastha, Basu, dkk. 1997. Pengantar Bisnis Modern. Yogyakarta : Liberty.
Umar, Husein. 1998. Riset Akuntansi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Widjaja Tunggal, Amin. 2002. Akuntansi Perusahaan Kecil & Menengah. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Wirartha, I Made 2006. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi, Yogyakarta : Andi

Manajemen Strategik


  1. a. Analisis lingkungan internal organisasi (IFAS) dan tujuannya?

Analisis Lingkungan Internal Organisasi merupakan suatu proses untuk menemukan aspek-aspek internal atau faktor-faktor internal perusahaan yang diperlukan dalam menghadapi lingkungan eksternalnya dan mengevaluasi apakah aspek tersebut berada dalam posisi yang kuat atau lemah.

Tujuan Analisis Lingkungan Internal adalah untuk menilai faktor-faktor yang berada didalam lingkungan organisasi yang mempengaruhi kemajuan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hasil dari analisis lingkungan internal akan menghasilkan kekuatan dan kelemahan perusahaan.


b. Langkah atau caranya :

Analisis lingkungan internal merupakan suatu proses yang terdiri dari beberapa langkah seperti berikut :

  1. Identifikasi variabel internal.

  2. Evaluasi dan penilaian Variabel internal.

  3. Menyusun ringkasan hasil analisis.


Sebelum melakukan kajian terhadap kondisi perusahaan tentunya kita harus mengatahui terlebih dahulu bagian-bagian penting di dalam perusahaan yang akan turut di dalam membangun kekuatan dan kelemahan perusahaan. Langkah idenfikasi variabel merupakan alat untuk menemukan bagian-bagian internal yang diperlukan tersebut. Langkah ini sangat penting, karena jangan sampai ada bagian/variabel internal yang penting terlewatkan untuk dianalisis sehingga manajer kehilangan informasi mengenai posisi kekuatan ataupun kelemahannya. Jika itu terjadi berarti akan mengakibatkan tidak termanfaatkannya dengan baik kekuatan yang ada atau tidak tertanganinya kelemahan perusahaan yang mungkin memiliki dampak terhadap posisi bersaing dan masa depan perusahaan.

Setelah menemukan variabel yang perlu dianalisis,maka barulah kajian terhadap variabel tersebut dapat dilakukan. Kajian ini akhirnya akan menghasilkan informasi tenatang kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan. Semua hasil tentunya disusun dalam sebuah ringkasan sehingga mudah untuk dibaca dan dipahami secara singkat. Ringkasan ini akan menggambarkan Strategic Anvantages Profile dari perusahaan.


c. Faktor yang dianalisis serta penjelasan meliputi masing-masing faktor tersebut:

  1. Sumberdaya (resources), meliputi :

  1. Tangible Resource, contoh sumber daya dana dan fasilitas fisik

  2. Intagible Resource, contoh teknologi, reputasi, inovasi

  1. Kapabilitas (capability), meliputi : keuangan dan pemasaran

  2. Kompetensi Inti , meliputi : Research Development


  1. a. Berikut model analisis lingkungan persaingan industri dari Michael Porter.










Porter menyatakan bahwa kelima kekuatan bersaing tersebut dapat mengembangkan strategi persaingan dengan mempengaruhi atau mengubah kekuatan tersebut agar dapat memberikan situasi yang menguntungkan bagi perusahaan.

Ruang lingkup kelima kekuatan bersaing tersebut, antara lain:

    1. Ancaman pendatang baru, perusahaan yang memasuki industry yang membawa kapasitas baru dan ingin memperoleh pangsa pasar yang baik dan laba akan tetapi semua itu sangat tergatung kepada rintangan atau kendala yang mengitarinya. Dapat juga ditentukan dengan hambatan masuk ke dalam industri, antara lain, hambatan harga, respon incumbent, biaya yang tinggi, pengalaman incumbent dalam industri, keunggulan biaya, differensiasi produk, akses distribusi, kebijakan pemerintah dan switching cost.

    2. Kekuatan tawar-menawar pemasok, pemasok juga dapat menjadi ancaman dalam suatu industry sebab pemasok dapat menaikkan harga produk yang dijual atau mengurangi kualitas produk. Juga dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain tingkat konsentrasi pasar, diversifikasi, switching cost, organisasi pemasok dan pemerintah.

    3. Kekuatan tawar-menawar pembeli, pembeli selalu berusaha untuk mendapatkan produk dengan kualitas baik dan dengan harga yang cukup murah. Dalam hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain differensiasi, konsentrasi, kepentingan pembeli, tingkat pendapatan, pilihan kualitas produk, akses informasi, dan switching cost.

    4. Ancaman produk subtitusi, dalam hal ini dipengaruhi oleh harga produk subtitusi, switching cost, dan kualitas produk.

    5. Persaingan di dalam industri, yang ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu pertumbuhan pasar, struktur biaya, hambatan keluar industri, switching cost, pengalaman dalam industri, dan perbedaan strategi yang diterapkan.


b. Halangan masuk dalam persaingan dan penjelasan meliputi :

Hambatan untuk memasuki industri (entry baarier) :

  1. Skala ekonomi (economics scale) : skala ekonomi menghalangi masuknya pendatang baru dengan cara memaksa mereka untuk masuk pada skala besar.

  2. Diferensiasi produk (product differentiation) : diferensiasi produk menciptakan hambatan masuk dengan memaksa pendatang baru mengeluarkan biaya yang besar untuk mengatasi kesetiaan pelanggan yang ada.

  3. Persyaratan modal (capital requirement)

  4. Biaya peralihan pemasok (switching cost) : biaya yang harus dikeluarkan pembeli bilamana berppindah dari produk pemasok tertentu ke produk pemasok lainnya.

  5. Akses ke saluran distribusi

  6. Kebijakan pemerintah


LAPORAN PENELITIAN (Riset Akuntansi)


PENGARUH RASIO PROFITABILITAS,RASIO SOLVABILITAS,DAN RISIKO SISTEMATIS TERHADAP HARGA SAHAM PROPERTI DI BURSA EFEK JAKARTA

I. Pendahuluan

Fluktuasi harga saham yang terjadi sangat berperan didalam pasar modal. Penanaman modal dalam bentuk saham merupakan suatu jenis investasi yang mengandung risiko relatif tinggi, maka diperlukan analisis yang akurat untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya fluktuasi harga saham yang akan dibeli.

Setiap investor yang melakukan investasi di pasar modal mengharapkan keuntungan dari dana yang ditanamkan. Ada investor yang mempunyai tujuan untuk memperoleh deviden dan ada pula yang mengharapkan mendapatkan capital gain yaitu selisih antara harga investasi sekarang dengan harga periode yang lalu. Kekuatan analisis ini akan memberikan informasi kepada investor tentang waktu yang tepat membeli saham tertentu dan kapan menjual saham atau keluar dari pasar.

Untuk dapat menginterpretasikan informasi akuntansi yang relevan dengan tujuan dan kepentingan pemakainya telah dikembangkan seperangkat teknik analisis yang didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan. Salah satu teknik tersebut yang populer diaplikasikan dalam praktek bisnis adalah dengan menggunakan rasio keuangan.

Njo Anastasia (2001) melakukan penelitian tentang Analisis Faktor Fundamental dan Resiko Sistematik Terhadap Harga Saham Properti di BEJ. Alat analisis yang digunakan adalah Harga saham diukur dari ROA (Return on Total Asset), ROE (Return On Equity), BV (Book Value), b (Payout Ratio), DER (Debt Equity Ratio), r (Required Rate of Return) dan risiko sistematik (beta). Hasil penelitian menunjukkan hanya faktor fundamental Book Value (BV) yang mempengaruhi harga saham secara parsial, sedangkan faktor fundamental yang lainnya tidak berpengaruh.

Noer Sasongko (2006) meneliti tentang Pengaruh Eva Dan Rasio-Rasio Profitabilitas Terhadap Harga Saham. Alat analisis yang digunakan adalah Harga Saham diukur dari ROA (Return on Asset), ROE (Return on Equity), ROS (Return on Sales), EPS (Earning Per Share), BEP (Basic Earning Power) dan EVA (Economic Value Added). Hasil dari test menunjukkan bahwa hanya EPS yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham.

Dengan memperhatikan penelitian Njo Anastasia (2001) dan Noer Sasongko (2006), penulis tertarik melakukan penelitian tentang Pengaruh Rasio Profitabilitas, Rasio Solvabilitas,dan Risiko Sistematis terhadap Harga Saham Properti di Bursa Efek Jakarta.

Bagi perusahaan diharapkan lebih memperhatikan faktor-faktor fundamental perusahaan tanpa mengabaikan kondisi ekonomi makro. Bagi Investor maupun calon investor disarankan untuk melakukan analisis terhadap calon perusahaan emiten baik dari segi fundamental maupun dari segi teknikal, serta bersikap kritis terhadap setiap informasi yang tersedia di pasar modal.

II. Tinjauan Pustaka

2.1 Analisa Saham

Investor perlu melakukan analisa terlebih dahulu terhadap saham-saham yang akan dipilihnya agar dapat diprediksi apakah saham tersebut akan memberikan tingkat return yang sesuai dengan tingkat return yang diharapkan. Menurut Fakhruddin dan Sopian (2001:55), dalam melakukan analisa saham ada dua aspek yang sering digunakan yaitu aspek fundamental dan aspek teknikal.

2.2 Analisa fundamental

Untuk melakukan investasi dalam bentuk saham diperlukan analisis untuk mengukur nilai saham yaitu analisi fundamental dan analisis teknikal. Tujuan analisis fundamental adalah menentukan apakah nilai saham berada pada posisi undervalue atau overvalue. Saham dikatakan undervalue bilamana harga saham di pasar saham lebih kecil dari harga wajar atau nilai yang seharusnya,demikian juga sebaliknya.

2.3 Rasio Keuangan

Analis keuangan perlu melakukan pemeriksaan atas berbagai aspek kesehatan keuangan perusahaan agar dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan dan kinerjanya. Alat yang sering digunakan selama pemeriksaan adalah rasio keuangan, sebagaimana yang disampaikan oleh pakar keuangan yang menyatakan “Tujuan menghitung Rasio karena dengan cara ini bisa mendapatkan perbandingan yang mungkin terbukti lebih berguna daripada angka-angka aslinya sendiri” (Van Horne dan Machowicz(2005) dalam Annio (2005)).

2.4 Risiko Sistematis

Risiko sistematis dari suatu sekuritas atau portofolio yang relatif terhadap risiko pasar dapat diukur dengan BETA. BETA suatu sekuritas adalah kuantitatif yang mengukur sensitivitas keuntungan dari suatu sekuritas dalam merespon pergerakan keuntungan pasar.

2.5 Kerangka Konseptual

Analisis fundamental berupaya mengidentifikasi prospek perusahaan melalui analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham untuk memperkirakan harga saham di masa yang akan datang. BETA suatu sekuritas adalah kuantitatif yang mengukur sensitivitas keuntungan dari suatu sekuritas dalam merespon pergerakan keuntungan pasar.

ROA merupakan rasio yang membandingkan laba bersih penjualan dengan total aktiva (Sawir, 2005:33). ROA digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan didalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena tingkat pengembalian besar (Ang (1997) dalam Suchitra (2006).

. Semakin tinggi ROE mununjukkan semakin efisien perusahaan menggunakan modal sendiri untuk hasilkan laba. Keterkaitan antara ROE dengan harga saham dikemukakan oleh Higgins (1990:59) dalam Suchitra (2006) menjelaskan bahwa adanya hubungan yang positif antara ROE dan harga saham perusahaan yang dapat meningkatkan nilai buku saham perusahaan, jadi antara ROE dengan harga saham mempunyai hubungan positif dimana ROE yang tinggi cenderung harga saham juga akan tinggi.

DER merupakan rasio yang membandingkan utang perusahaan dengan total ekuitas. DER yang tinggi mempunyai dampak yang buruk terhadap kinerja perusahaan karena tingkat hutang yang semakin tinggi berarti beban bunga akan semakin besar yang berarti mengurangi keuntungan, sebaliknya tingkat DER yang kecil menunjukkan kinerja yang semakin baik karena menyebabkan tingkat kembalian yang semakin tinggi (Ang (1997) dalam Suchitra (2006) Investor cenderung memilih saham dengan DER yang rendah.

Semakin tinggi tingkat BETA, semakin tinggi risiko sistematik yang tidak dapat dihilangkan karena diversifikasi. Untuk menghitung beta digunakan teknik regresi yaitu mengestimasi beta suatu sekuritas dengan menggunakan return-return sekuritas sebagai variabel terikat dan return-return pasar sebagai variabel bebas.

2.6 Hipotesis

Hipotesis yang diperoleh dari kerangka konseptual adalah : Return On Assets (ROA), Debt Equity Ratio (DER), dan Risiko Sistematis (BETA) secara serempak mempengaruhi Harga Saham.

III. Metode Penelitian

3.1. Sampel

Populasi pada objek penelitian ini adalah perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2004-2006. Jumlah populasi yang ada adalah 13 perusahaan. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan suatu kriteria tertentu dengan pertimbangan (Jogiyanto, 2004 : 79).

DAFTAR SAMPEL PENELITIAN

stocks

emiten

BIPP

Bhuwanatala Indah Permai

BMSR

Bintang Mitra Semestaraya

CKRA

Ciptojaya Kontrindoreksa

DART

Duta Anggada Reality

FMII

Fortune Mate Indonesia

GMTD

Gowa Makassar Tourism

KARK

Dayaindo resources international

KPIG

Kridaperdana Indah Graha

LAMI

Lamicitra Nusantara

LPCK

Lippo Cikarang

OMRE

Indonesia Prima Properti

PUDP

Pudjiadi Prestige Limited

SMDM

Suryamas Dutamakmur

3.2 Analisis Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

ROA

39

-58.82

14.09

-.7738

10.50105

ROE

39

-58.84

71.19

1.8569

17.70713

DER

39

-7.51

6.60

.9522

2.09145

BETA

39

-50.60

90.00

22.1205

31.94975

HARGA

39

20.00

600.00

154.7949

141.58356

Valid N (listwise)

39

Tabel di atas menunjukkan bahwa variabel ROA,ROE,dan DER yang memiliki nilai minimum negatif, sedangkan untuk variabel Beta nilainya bernilai positif

Dengan demikian, dapat disimpulkan selama periode pengamatan beberapa perusahaan sampel mengalami kerugian dan menciptakan nilai negatif terhadap nilai pemegang saham sehingga alat ukur dan rasio profitabilitas bernilai negatif.

IV. Analisis Data Dan Pembahasan

Salah satu syarat yang mendasari penggunaan model regresi berganda dengan metode estimasi Ordinary Least Squares (OLS) adalah dipenuhinya semua asumsi klasik, agar hasil pengujian bersifat tidak bias dan efisien (Best Linear Unbiased Estimator/BLUE). Pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program statistik.

4.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui varians penganggu atau residual berdistribusi secara normal serta untuk menghindari adanya bias dalam model regresi. Pengujian normalitas data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S), dengan membuat hipotesis:

H0 : Data residual berdistribusi normal

Ha : Data residual tidak berdistribusi normal

Apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0.05 maka H0 diterima, sedangkan jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05 maka H0 ditolak.

Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

ROA

ROE

DER

BETA

HARGA

N

39

39

39

39

39

Normal Parameters(a,b)

Mean

-.7738

1.8569

.9522

22.1205

154.7949

Std. Deviation

10.50105

17.70713

2.09145

31.94975

141.58356

Most Extreme Differences

Absolute

.308

.256

.273

.114

.265

Positive

.252

.224

.154

.114

.265

Negative

-.308

-.256

-.273

-.082

-.171

Kolmogorov-Smirnov Z

1.921

1.599

1.706

.711

1.656

Asymp. Sig. (2-tailed)

.001

.012

.006

.693

.008

a Test distribution is Normal.

b Calculated from data.

Setelah melihat tabel dapat disimpulkan bahwa perhitungan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan data tidak terdistribusi normal. Untuk itu, penulis melakukan transformasi data ke model logaritma natural (LN_) dari Harga Saham = f(ROA, ROE, DER,BETA) menjadi LN_ Harga Saham = f( LN_ROA, LN_ROE, LN_DER,LN_BETA). Kemudian data diuji ulang berdasarkan asumsi normalitas, berikut ini hasil pengujian dengan Kolmogorov-Smirnov:

Hasil Uji Normalitas pada Data Setelah Transformasi Logaritma Natural

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

LN_ROA

LN_ROE

LN_DER

LN_BETA

LN_SAHAM

N

25

25

36

31

39

Normal Parameters(a,b)

Mean

.2863

1.0401

-.5865

3.1805

4.6857

Std. Deviation

1.27439

1.55497

1.58860

.84283

.84857

Most Extreme Differences

Absolute

.155

.108

.136

.092

.134

Positive

.123

.108

.074

.061

.134

Negative

-.155

-.106

-.136

-.092

-.100

Kolmogorov-Smirnov Z

.773

.541

.815

.514

.837

Asymp. Sig. (2-tailed)

.589

.931

.521

.954

.485

a Test distribution is Normal.

b Calculated from data.

4.2 Uji Multikolonieritas

Ghozali (2005:91) menyatakan “uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Untuk mengetahui ada tidaknya multikolonieritas dapat dilihat dari nilai Variance Inflation Factor (VIF), apabila nilai VIF >10 maka terjadi multikolonieritas dan apabila VIF <10 maka tidak terjadi multikolonieritas (Ghozali, 2005:92).

Tindakan perbaikan yang dilakukan adalah mengeluarkan variabel independen yang memiliki nilai VIF yang terbesar yaitu ROE sebesar 45.714, maka persamaan regresi yang diterima adalah LN_Harga Saham = f(LN_ROA, LN_DER, LN_BETA), dan dilakukan pengujian multikolonieritas ulang, diperoleh:

4.3 Uji Autokorelasi

Pengujian Autokorelasi menurut Ghozali (2005:95) bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi penganggu antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode t-1. Autokorelasi menunjukkan adanya korelasi di antara data pengamatan yang tersusun baik seperti data cross sectional dan/atau time series. Untuk mengetahui adanya autokorelasi digunakan uji Durbin-Watson, dengan kriteria menurut Triton P B (2006:158) dengan cara melihat besaran Durbin-Watson sebagai berikut:

· Jika Angka D-W > dU,maka tidak ada autokorelasi

· Jika Angka D-W < dU,maka terjadi autokorelasi.

· Jika dL

Autokorelasi atau tidak

Berikut ini hasil uji Durbin Watson dengan menggunakan program SPSS:

4.4 Uji Heteroskedastisitas

Menurut Ghozali (2005:105) menyatakan “uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya”. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka disebut homoskedastisitas, dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homokedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas.

4.5 Analisis Regresi

Dari hasil pengujian asumsi klasik disimpulkan bahwa model regresi yang dipakai dalam penelitian ini telah memenuhi model estimasi yang Best Linear Unbiased Estimator (BLUE) dan layak untuk dilakukan analisis statistik selanjutnya.

Hasil Analisis Regresi

Variabel

Unstandarized Coefficients (B)

T hitung

Sig.

Keterangan

(Constant)

3.124

X1

0,268

2,132

0,048

Signifikan

X2

0.350

3.515

0.003

Signifikan

X3

0.521

2.992

0.008

Signifikan

R = 0,792

R Square = 0.627

F hitung = 9.522

Sig. F = 0,001

α = 0,05

n = 39

t tabel, α = 5% = 2,0423

F tabel, α = 5% = 2,92

Variabel dependen pada regresi ini adalah LN_Harga saham (Y) sedangkan variabel independen adalah variabel LN_ROA(X1), LN_DER(X2), dan LN_BETA(X3). Berdasarkan penjelasan dari pengujian asumsi klasik sebelumnya, model regresi dalam penelitian ini telah diubah menjadi model logaritma natural, sehingga beta dan koefisien dari penelitian ini dapat disimpulkan dalam bentuk logaritma natural dan tidak dapat diinterpretasikan.

Model regresi berdasarkan hasil analisis di atas adalah:

Y = 3.124 + 0.268 X1 +0.350 X2 + 0.521 X3 + e

Dari hasil ujian ANOVA atau F test, didapat F hitung sebesar 9.522 dengan tingkat signifikansi 0.001. Karena probabilitas (0.001) lebih kecil dari 0.05 maka model regresi dalam penelitian ini bisa dipakai untuk memprediksi harga saham. Selain itu, bisa disimpulkan bahwa variabel independen LN_ROA, LN_DER, dan LN_BETA secara bersama-sama berpengaruh terhadap harga saham.

4.6 Pengujian Hipotesis

Hipotesis yang dinyatakan adalah “Variabel ROA, DER, dan BETA berpengaruh terhadap harga saham”. Untuk mengetahui apakah variabel independen dalam model regresi mempunyai pengaruh yang nyata (signifikan) terhadap variabel dependen, harga saham dilakukan pengujian dengan menggunakan uji t (T test). Menurut Ghozali (2005:84), “Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual menerangkan variasi variabel dependen

Setelah dilakukan uji t, maka hasil uji hipotesis ini dapat ditunjukkan dalam tabel 4.12 berikut ini:

Tabel 4.12

Hasil Uji t

Variabel

Regresi

T hitung

Signifikansi t

Konstanta

3.124

0.000

LN_ROA

2.132

0,048

LN_DER

3.515

0.003

LN_BETA

2.992

0.008

Berdasarkan tabel 4.13, diperoleh F hitung sebesar 9.522 dan nilai ini lebih besar dari F tabel 8.60 ( 9.522 > 8.60), hal ini menunjukkan bahwa Ha diterima. Sedangkan nilai signifikansi F hitung sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05 mengindikasikan bahwa Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen yaitu LN_ROA, LN_DER, LN_BETA secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.

V. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan secara statistik di atas, maka untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif, hasil penelitian ini akan ditelaah lebih lanjut sesuai dengan aspek-aspek finansial yang mendasarinya.

1. Return On Assets (ROA)

Berdasarkan hasil regresi dapat dijelaskan bahwa variabel independen Return On Assets (ROA) mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham, artinya setiap kenaikan ROA turut meningkatkan harga saham. Begitu pula dari hasil uji t, LN_ROA menunjukkan bahwa variabel ROA memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,048, nilai ini lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 artinya variabel ROA secara parsial berpengaruh terhadap harga saham.

2. Debt Equity Ratio (DER)

Berdasarkan hasil regresi dapat dijelaskan bahwa variabel independen Debt Equity Ratio (DER) mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham, artinya setiap kenaikan DER turut meningkatkan harga saham.

3. Risiko Sistematis (BETA)

Berdasarkan hasil regresi dapat dijelaskan bahwa variabel independen Risiko Sistematis (BETA) mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham, artinya setiap kenaikan BETA turut meningkatkan harga saham.

5.2 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan yang dihadapi dalam penelitian ini yaitu:

1. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini hanya menganalisis perusahaan go public dari sektor properti dengan jumlah seluruh perusahaan infrastruktur yang listing sebanyak 13 perusahaan.

2. Penulis melakukan pengamatan terhadap harga saham hanya dari segi fundamental perusahaan sampel baik fundamental maupun keuangannya dengan mengabaikan kondisi makro ekonomi yang juga berpengaruh pada harga saham seperti keadaan ekonomi, tingkat inflasi, situasi politik, dan lain-lain.

5.3 Saran

Untuk peneliti selanjutnya sebaiknya memperhatikan kondisi makro ekonomi yang juga berpengaruh pada harga saham seperti keadaan ekonomi, tingkat inflasi dan situasi politik sehingga hasil penelitian lebih mampu untuk memprediksi perubahan harga saham dengan lebih tepat dan lebih akurat.

REFERENCES

Anatasia, N, 2001. Analisis Faktor Fundamental dan Resiko Sistematik Terhadap Harga Saham Properti di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Akuntansi.Volume 5,hal 123, Jakarta.

Atmaja, Lukas Setia, 2003.Manajemen Keuangan, Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Baruno, Agung, 2005. Analisis Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan Terhadap Devidend Payout Ratio Pada Industri Telekomunikasi Di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Ekonomi.Volume 15,hal 55, Jakarta.

Cahyono, Jaka E. 2002. Meraih Untung Di Bursa Saham, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

Darmaji, Tjiptono, Fakhruddin, Hendy M, 2006. Pasar Modal di Indonesia,Pendekatan Tanya Jawab, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Dwi, K.S, 2003. Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham. Jurnal Ilmiah Akuntansi.Volume 5 Nomor 2, hal 57, Jakarta.

Fabozzi, Frank A, 1999. Manajemen Investasi, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Fakhruddin dan Sopian Hadianto, 2001. Perangkat dan Model Analisa Investasi di Pasar Modal, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, Departemen Akuntansi, 2004.Buku petunjuk teknis penulisan Proposal penelitian dan Penulisan Skripsi.Medan.

Harahap, Sofyan Syafri, 1999. Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan, Edisi Pertama, Cetakan Kedua, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

Husada, Pahala Indra, 2005. ”Analisa Faktor-Faktor Fundamental Yang Mempengaruhi Harga Saham Industri Properti Di Bursa Efek Jakarta”, Tesis.Universitas Sumatera Utara, Medan.

Jogiyanto, 2003. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, BPFE, Yogyakarta.

Kuswadi, 2004. Cara Mudah Memahami Angka dan Manajemen Keuangan bagi Orang Awam, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

Nachrowi, Djalal Nachrowi, 2006. Ekonometrika, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Nasution, Annio Indah L, 2006. ”Pengaruh Faktor Fundamental dan Teknikal Terhadap Harga Saham Properti yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”, Tesis.Universitas Sumatera Utara,Medan.

Sasongko, Noer, 2006. Pengaruh Eva Dan Rasio-Rasio Profitabilitas Terhadap Harga Saham, Empirika, Vol. 19 No. 1, hal 64, Jawa Tengah.

Sawir, Agnes, 2001. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan, Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Susilawati, Christine Dwi Karya, 2005. Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur, Jurnal Akuntansi.Volume 5, hal 57, Jakarta.

Triton,2006. Riset Statistik Parametrik.Penerbit Andi, Yogyakarta.

Umar, Husein, 2003. Metode Riset Akuntansi Terapan, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Copyright 2009 R471H Blogger. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy